Filosofi Menghanyutkan Rakit dalam Ritual Sedekah Bedusun di Desa Purun: Lima Gadis Suci Pembawa Persembahan
PALI [kabarpali.com] – Tradisi Sedekah Bedusun di Desa Purun, Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menyimpan makna filosofis yang mendalam. Salah satu prosesi yang paling sakral dalam ritual ini adalah menghanyutkan rakit berisi sajian khusus persembahan ke Sungai Sebagut.
Disampaikan Tetua Adat setempat, prosesi ini dipimpin oleh lima gadis suci, yakni remaja berusia sekitar 13 tahun yang belum mengalami menstruasi. Mereka dipercaya sebagai simbol kesucian dan pembawa berkah dalam upacara adat yang telah diwariskan turun-temurun ini.
Rakit yang dihanyutkan di sungai berisi aneka sajian seperti ayam panggang tiga warna, lemang, dan bubur putih. Setiap sajian memiliki filosofi tersendiri:
• Ayam tiga warna melambangkan tiga unsur kehidupan: hitam untuk malam yang gelap, putih untuk siang yang terang, dan kuning untuk kesempurnaan.
• Lemang menjadi simbol kemakmuran di bidang pangan.
• Bubur putih merepresentasikan kesucian dan kesehatan.
Sajian ini kemudian diletakkan di atas rakit dan dihanyutkan di Sungai Sebagut. Ritual ini dipercaya sebagai doa agar segala hal buruk dapat terhindar, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat desa.
Ritual Sedekah Bedusun di desa Purun Kecamatan Penukal Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) berlangsung selama 2 hari yakni tanggal 27 dan 28 Agustus 2025. Prosesi ini dilaksanakan setelah sebelumnya juga pernah dilakukan pada sekira 1996.
Rangkaian Sedekah Bedusun antara lain ziarah pada makam Puyang Nengkoda, merawat pusaka peninggalannya, pemotongan kerbau dan sapi, serta berdoa dan makan bersama.
"Tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga pengingat nilai-nilai kebersamaan, syukur, dan penghormatan terhadap alam," ujar warga setempat.[red]










