Praktisi Hukum : Disdik PALI Gagal Faham Menafsirkan PP 48 Tahun 2005

Oleh Redaksi KABARPALI | 13 Februari 2022
J. Sadewo,S.H.,M.H.


PALI [kabarpali.com] - Praktisi hukum, J Sadewo,S.H.,M.H., mengatakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), telah gagal faham dalam menafsirkan isi Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2005, Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.
 
Hal itu dicetuskannya setelah mengamati berita viral, terkait kegalauan para guru honorer sekolah negeri di Kabupaten PALI, yang terkendala untuk mendaftar Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan tahun 2022, karena persoalan syarat.
 
Para honorer tersebut, tak bisa mendaftar PPG disebabkan Surat Keputusan (SK) mengajar yang hanya dikeluarkan oleh Kepala Sekolah, dimana mereka mengabdi. Sedangkan salah satu syarat, SK pendaftar harus ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan atau Kepala Daerah setempat (honorer daerah).
 
"Dinas Pendidikan PALI beralasan, kalau mereka menerbitkan SK tersebut untuk para guru honorer sekolah negeri, artinya mereka melanggar Pasal 8 PP 48 Tahun 2005," cetusnya, Sabtu (12/2/2022).
 
Adapun isi dari Pasal 8 PP itu yakni bahwa 'sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, semua Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat lain di lingkungan instansi, dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenisnya, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah'.
 
"Adapun maksud dari pasal tersebut, adalah Pemerintah dilarang mengangkat tenaga honorer menjadi CPNS. Sebagaimana maksud dan tujuan diterbitkannya PP a quo. Bukan mengangkat seseorang menjadi tenaga honorer. Di sini gagal fahamnya," terangnya.
 
Ditambahkannya, bahwa pasal-pasal tekstual dalam suatu aturan perlu ditafsirkan secara komprehensif, tidak bisa secara dangkal dan berdiri sendiri-sendiri pasal per pasal. Sehingga impelementasi maksud dan tujuan tercapai.
 
"Sudah jelas PP itu tentang Larangan Mengangkat Tenaga Honorer menjadi CPNS. Dan ini berlaku untuk semua instansi, bukan hanya instansi pendidikan atau sekolah saja," tegas advokat dan konsultan hukum itu.
 
Jika apa yang dimaksud oleh Disdik PALI begitu, imbuhnya, artinya selama ini banyak sekali pelanggaran PP itu. Sebab, sekolah negeri pun masuk dalam kategori pemerintah. Pun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain, yang masih menerima tenaga honorer pasca diterbitkan PP 48 Tahun 2005. Sedangkan mereka digaji oleh anggaran pemerintah (APBD atau APBN).
 
"Tentu pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan yang bertentangan dengan aturan. Begitu juga Kemendikbudristek RI sebagai leading sector PPG Tahun 2022. Pasti sudah dikaji, terkait dengan persyaratan. Mana yang selaras dengan aturan, mana yang  tidak," tukasnya.**

BERITA LAINNYA

101933 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

79050 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39382 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25910 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23545 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020
PALI [kabarpali.com] - Praktisi hukum, J Sadewo,S.H.,M.H., mengatakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), telah gagal faham dalam menafsirkan isi Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2005, Tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.
 
Hal itu dicetuskannya setelah mengamati berita viral, terkait kegalauan para guru honorer sekolah negeri di Kabupaten PALI, yang terkendala untuk mendaftar Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam Jabatan tahun 2022, karena persoalan syarat.
 
Para honorer tersebut, tak bisa mendaftar PPG disebabkan Surat Keputusan (SK) mengajar yang hanya dikeluarkan oleh Kepala Sekolah, dimana mereka mengabdi. Sedangkan salah satu syarat, SK pendaftar harus ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan atau Kepala Daerah setempat (honorer daerah).
 
"Dinas Pendidikan PALI beralasan, kalau mereka menerbitkan SK tersebut untuk para guru honorer sekolah negeri, artinya mereka melanggar Pasal 8 PP 48 Tahun 2005," cetusnya, Sabtu (12/2/2022).
 
Adapun isi dari Pasal 8 PP itu yakni bahwa 'sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, semua Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat lain di lingkungan instansi, dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenisnya, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah'.
 
"Adapun maksud dari pasal tersebut, adalah Pemerintah dilarang mengangkat tenaga honorer menjadi CPNS. Sebagaimana maksud dan tujuan diterbitkannya PP a quo. Bukan mengangkat seseorang menjadi tenaga honorer. Di sini gagal fahamnya," terangnya.
 
Ditambahkannya, bahwa pasal-pasal tekstual dalam suatu aturan perlu ditafsirkan secara komprehensif, tidak bisa secara dangkal dan berdiri sendiri-sendiri pasal per pasal. Sehingga impelementasi maksud dan tujuan tercapai.
 
"Sudah jelas PP itu tentang Larangan Mengangkat Tenaga Honorer menjadi CPNS. Dan ini berlaku untuk semua instansi, bukan hanya instansi pendidikan atau sekolah saja," tegas advokat dan konsultan hukum itu.
 
Jika apa yang dimaksud oleh Disdik PALI begitu, imbuhnya, artinya selama ini banyak sekali pelanggaran PP itu. Sebab, sekolah negeri pun masuk dalam kategori pemerintah. Pun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain, yang masih menerima tenaga honorer pasca diterbitkan PP 48 Tahun 2005. Sedangkan mereka digaji oleh anggaran pemerintah (APBD atau APBN).
 
"Tentu pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan yang bertentangan dengan aturan. Begitu juga Kemendikbudristek RI sebagai leading sector PPG Tahun 2022. Pasti sudah dikaji, terkait dengan persyaratan. Mana yang selaras dengan aturan, mana yang  tidak," tukasnya.**

BERITA TERKAIT

Sufmi Dasco Pertemukan Hotman Paris dan Ketum PWI di Tengah Polemik Laporan Penghinaan Wartawan

30 Juli 2026 252

Jakarta [kabarpali.com] – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad [...]

PALI Resmi Luncurkan PPLPD 2026, Siapkan Atlet Pelajar Berprestasi dari Tiga Cabang Olahraga

23 Juli 2026 139

PALI [kabarpali.com] – Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir [...]

Kejari PALI Tetapkan Lima Tersangka Korupsi, Kerugian Negara Capai Rp900 Juta

21 Juli 2026 1004

PALI [kabarpali.com] – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Penukal Abab [...]

close button