Merah Putih, Perjuangan, dan Wajah PALI di Usia 81 Tahun Kemerdekaan RI
PALI [kabarpali.com] — Pagi, 17 Agustus 2026, di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Sumatera Selatan, tak hanya dimulai dengan derap langkah pasukan dan kibaran Merah Putih. Di Lapangan Gelora 10 November, Kompleks Pertamina Pendopo, ribuan orang berkumpul untuk mengulang sebuah ritual yang telah berlangsung selama 81 tahun: mengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak datang dengan cuma-cuma.
Bupati PALI Asgianto, S.T. berdiri sebagai inspektur upacara. Di hadapannya, barisan TNI-Polri, ASN, organisasi masyarakat, pelajar dan berbagai elemen daerah menyatu dalam satu lapangan. Upacara itu menjadi puncak dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang berlangsung di PALI sepanjang Agustus.
Namun kemerdekaan di PALI tahun ini tidak hanya hadir dalam upacara. Beberapa hari sebelumnya, jalan-jalan di Talang Ubi dipenuhi pelajar yang mengikuti gerak jalan dan karnaval. Sebanyak 178 regu ambil bagian: 100 regu SD/MI, 56 regu SMP/MTs dan 22 regu SMA/SMK/MA. Asgianto membuka kegiatan tersebut dan mengingatkan bahwa perayaan kemerdekaan semestinya tidak berhenti sebagai hiburan tahunan.
“Kegiatan ini bukan hanya untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat,” kata Asgianto.
Ada wajah lain dari perayaan itu. Pada 15 Agustus, Asgianto melepas ratusan peserta lomba memancing di Kolam Gelora 10 November. Kompetisi sederhana tersebut mempertemukan para penghobi pancing dan warga dalam suasana santai. Di sana, kemerdekaan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: tidak ada podium tinggi atau pidato panjang, hanya warga, kolam, kail dan kegembiraan yang dibagi bersama.
Sehari menjelang upacara, suasana berubah menjadi lebih hening. Minggu malam, 16 Agustus, Asgianto memimpin Apel Kehormatan dan Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Talang Ubi. Cahaya obor dan lilin menerangi makam para pejuang. Pemerintah daerah, TNI-Polri, organisasi perangkat daerah, pelajar dan Pramuka hadir dalam prosesi tersebut. Setelah upacara, Asgianto bersama unsur Forkopimda melakukan tabur bunga.
Dalam suasana seperti itulah Asgianto menyampaikan pesan yang barangkali menjadi inti dari seluruh rangkaian perayaan kemerdekaan tahun ini. Menurut dia, mengenang para pahlawan tidak cukup dilakukan dengan menundukkan kepala selama beberapa menit setiap Agustus.
“Melalui renungan suci ini, kita kembali mengingat jasa para pahlawan yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangan itu dengan membangun daerah, menjaga persatuan dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Asgianto.
Pesan itu menemukan bentuknya dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak awal bulan. Ada pelajar yang berlatih berbulan-bulan untuk menjadi Paskibraka. Sebanyak 35 pelajar terbaik PALI dikukuhkan untuk menjalankan tugas pada upacara HUT ke-81 RI. Di balik prosesi pengibaran bendera yang hanya berlangsung beberapa menit, ada latihan fisik, kedisiplinan dan tanggung jawab yang panjang.
Ada pula masyarakat yang merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih sederhana. Ada yang berjalan dalam karnaval, berolahraga, mengikuti perlombaan, berkumpul bersama tetangga atau sekadar memasang Merah Putih di depan rumah. Di tingkat daerah, seluruh kegiatan itu bertemu pada satu gagasan: kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang berdiri di podium, tetapi juga milik warga yang setiap hari menghidupkan kampung, sekolah, pasar dan ruang-ruang publik.
Bagi PALI, gagasan tersebut penting. Kabupaten yang masih relatif muda ini sedang membangun identitasnya sendiri. Karena itu, peringatan kemerdekaan menjadi semacam cermin: sejauh mana semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu diterjemahkan menjadi kerja pemerintah, gotong royong masyarakat dan kesempatan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, pertanyaan tentang kemerdekaan memang berubah. Generasi sebelumnya berjuang melawan penjajahan. Generasi sekarang menghadapi tantangan yang berbeda: ketimpangan, keterbatasan akses, persaingan ekonomi, kualitas pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga tuntutan agar pemerintah semakin dekat dengan kebutuhan warga.
Di tengah perubahan itu, Asgianto berulang kali menempatkan persatuan dan kerja bersama sebagai bagian penting dari makna kemerdekaan. Dalam kegiatan gerak jalan dan karnaval, misalnya, ia tidak sekadar melihat kerumunan pelajar sebagai tontonan Agustusan. Ia menyebutnya sebagai ruang untuk menumbuhkan nasionalisme, kebersamaan dan gotong royong.
Maka, Merah Putih yang berkibar di PALI pada 17 Agustus 2026 tidak semata-mata menandai bertambahnya usia Republik. Ia juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah dan masyarakat bahwa kemerdekaan harus terus diisi.
Di lapangan, bendera akhirnya sampai di puncak tiang. Tepuk tangan pecah. Upacara selesai. Tetapi pekerjaan yang disebut Asgianto sebagai “melanjutkan perjuangan” justru dimulai setelah semua barisan bubar.
Sebab bagi sebuah daerah, ukuran kemerdekaan bukan hanya seberapa meriah Agustus dirayakan. Ukurannya adalah apakah setelah bendera diturunkan, kehidupan warga menjadi sedikit lebih baik; apakah anak-anak memperoleh masa depan yang lebih luas; apakah pembangunan menjangkau mereka yang berada jauh dari pusat kabupaten; dan apakah perbedaan dapat tetap dirawat dalam satu ruang bernama PALI.
Di usia ke-81 Republik Indonesia, itulah barangkali makna paling sederhana dari pesan kemerdekaan: mengenang pahlawan dengan upacara, merayakannya dengan kegembiraan, lalu membuktikannya melalui kerja nyata.[red]










