Ancaman Super El Niño Mengintai, Mungkinkah Bencana 1997–1998 Terulang?

Oleh Redaksi KABARPALI | 01 Juni 2026


kabarpali.com - Dunia kembali menghadapi kekhawatiran akan munculnya fenomena Super El Niño yang diperkirakan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Para ilmuwan kini memantau perubahan kondisi di Samudra Pasifik dengan cermat, sembari mengingat salah satu episode El Niño paling dahsyat dalam sejarah modern yang terjadi pada 1997–1998.

Dikutip media ini dari detikinet, tanda-tanda kemunculan El Niño besar sebenarnya mulai terlihat sejak akhir 1996. Saat itu, jaringan pelampung pemantau cuaca laut mendeteksi peningkatan suhu air di kawasan Pasifik tropis. Fenomena tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya baru, namun skala dan kecepatannya membuat para ahli menyadari bahwa peristiwa luar biasa sedang berkembang.

Memasuki Februari 1997, massa air hangat terbentang di sepanjang wilayah khatulistiwa Pasifik, dari pantai Peru hingga Papua Nugini. Beberapa bulan kemudian, anomali suhu bawah laut meningkat drastis hingga lebih dari 6 derajat Celsius di atas kondisi normal. Pemanasan tersebut kemudian muncul ke permukaan dan memicu salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.

Peristiwa 1997–1998 menjadi titik penting dalam sejarah klimatologi karena untuk pertama kalinya fenomena El Niño dapat dipantau secara menyeluruh sejak awal hingga berakhir. Sistem pengamatan yang lebih modern saat itu memungkinkan para ilmuwan memahami proses terbentuknya gangguan iklim global tersebut secara lebih rinci.

Dampaknya terasa hampir di seluruh penjuru dunia. Suhu global melonjak tajam dan menjadikan periode tersebut sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat pada masanya. Curah hujan ekstrem memicu banjir besar di sejumlah wilayah Afrika dan Amerika Latin, yang kemudian diikuti merebaknya berbagai penyakit seperti kolera, malaria, serta demam Rift Valley.

Di kawasan Asia-Pasifik, dampaknya juga tidak kalah serius. Indonesia, Papua Nugini, dan Filipina mengalami perubahan pola cuaca yang memicu gangguan kesehatan serta krisis air di beberapa daerah. Sementara itu, Jepang, China, dan Korea Selatan menghadapi musim badai yang jauh lebih aktif dibandingkan biasanya.

Namun El Niño tidak hanya membawa hujan berlebihan. Di banyak wilayah lain, fenomena ini justru menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Hutan Amazon mengalami musim kering yang ekstrem hingga memicu kebakaran besar. Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara juga menghadapi ancaman serupa berupa kekurangan air dan meningkatnya risiko kebakaran hutan serta lahan.

Secara global, konsekuensi yang ditimbulkan sangat besar. Ribuan orang meninggal akibat banjir, kebakaran, gelombang panas, kelaparan, maupun wabah penyakit yang dipicu kondisi cuaca ekstrem. Sejumlah kajian memperkirakan kerugian ekonomi dunia mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar AS, sementara tingkat kemiskinan meningkat di berbagai negara yang paling terdampak.

Kini, hampir tiga dekade setelah kejadian tersebut, sejumlah lembaga meteorologi kembali mengingatkan adanya peluang terbentuknya El Niño berkekuatan sangat kuat pada 2026 hingga awal 2027. Prakiraan dari NOAA dan berbagai pusat iklim internasional menunjukkan kemungkinan kemunculan fenomena tersebut terus meningkat. Bahkan beberapa pakar menilai kondisi yang berkembang berpotensi menjadi salah satu El Niño terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, belum semua ilmuwan sepakat bahwa skenarionya akan seburuk 1997–1998. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat indikasi pasti mengenai kemunculan fenomena "Godzilla El Niño" atau El Niño ekstrem yang setara dengan bencana besar di masa lalu. Kondisi atmosfer dan lautan masih terus dipantau karena dinamika iklim dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

Yang jelas, jika El Niño kuat benar-benar berkembang, berbagai sektor mulai dari pertanian, ketersediaan air, ketahanan pangan, hingga risiko kebakaran hutan perlu bersiap menghadapi potensi dampaknya. Pengalaman pahit 1997–1998 menjadi pengingat bahwa perubahan suhu di Samudra Pasifik dapat memicu efek berantai yang menjangkau hampir seluruh dunia.[red/det]

BERITA LAINNYA

101814 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

78808 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39210 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25562 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23370 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

kabarpali.com - Dunia kembali menghadapi kekhawatiran akan munculnya fenomena Super El Niño yang diperkirakan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Para ilmuwan kini memantau perubahan kondisi di Samudra Pasifik dengan cermat, sembari mengingat salah satu episode El Niño paling dahsyat dalam sejarah modern yang terjadi pada 1997–1998.

Dikutip media ini dari detikinet, tanda-tanda kemunculan El Niño besar sebenarnya mulai terlihat sejak akhir 1996. Saat itu, jaringan pelampung pemantau cuaca laut mendeteksi peningkatan suhu air di kawasan Pasifik tropis. Fenomena tersebut bukanlah hal yang sepenuhnya baru, namun skala dan kecepatannya membuat para ahli menyadari bahwa peristiwa luar biasa sedang berkembang.

Memasuki Februari 1997, massa air hangat terbentang di sepanjang wilayah khatulistiwa Pasifik, dari pantai Peru hingga Papua Nugini. Beberapa bulan kemudian, anomali suhu bawah laut meningkat drastis hingga lebih dari 6 derajat Celsius di atas kondisi normal. Pemanasan tersebut kemudian muncul ke permukaan dan memicu salah satu El Niño terkuat yang pernah tercatat.

Peristiwa 1997–1998 menjadi titik penting dalam sejarah klimatologi karena untuk pertama kalinya fenomena El Niño dapat dipantau secara menyeluruh sejak awal hingga berakhir. Sistem pengamatan yang lebih modern saat itu memungkinkan para ilmuwan memahami proses terbentuknya gangguan iklim global tersebut secara lebih rinci.

Dampaknya terasa hampir di seluruh penjuru dunia. Suhu global melonjak tajam dan menjadikan periode tersebut sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat pada masanya. Curah hujan ekstrem memicu banjir besar di sejumlah wilayah Afrika dan Amerika Latin, yang kemudian diikuti merebaknya berbagai penyakit seperti kolera, malaria, serta demam Rift Valley.

Di kawasan Asia-Pasifik, dampaknya juga tidak kalah serius. Indonesia, Papua Nugini, dan Filipina mengalami perubahan pola cuaca yang memicu gangguan kesehatan serta krisis air di beberapa daerah. Sementara itu, Jepang, China, dan Korea Selatan menghadapi musim badai yang jauh lebih aktif dibandingkan biasanya.

Namun El Niño tidak hanya membawa hujan berlebihan. Di banyak wilayah lain, fenomena ini justru menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Hutan Amazon mengalami musim kering yang ekstrem hingga memicu kebakaran besar. Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara juga menghadapi ancaman serupa berupa kekurangan air dan meningkatnya risiko kebakaran hutan serta lahan.

Secara global, konsekuensi yang ditimbulkan sangat besar. Ribuan orang meninggal akibat banjir, kebakaran, gelombang panas, kelaparan, maupun wabah penyakit yang dipicu kondisi cuaca ekstrem. Sejumlah kajian memperkirakan kerugian ekonomi dunia mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar AS, sementara tingkat kemiskinan meningkat di berbagai negara yang paling terdampak.

Kini, hampir tiga dekade setelah kejadian tersebut, sejumlah lembaga meteorologi kembali mengingatkan adanya peluang terbentuknya El Niño berkekuatan sangat kuat pada 2026 hingga awal 2027. Prakiraan dari NOAA dan berbagai pusat iklim internasional menunjukkan kemungkinan kemunculan fenomena tersebut terus meningkat. Bahkan beberapa pakar menilai kondisi yang berkembang berpotensi menjadi salah satu El Niño terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, belum semua ilmuwan sepakat bahwa skenarionya akan seburuk 1997–1998. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat indikasi pasti mengenai kemunculan fenomena "Godzilla El Niño" atau El Niño ekstrem yang setara dengan bencana besar di masa lalu. Kondisi atmosfer dan lautan masih terus dipantau karena dinamika iklim dapat berubah dalam waktu relatif singkat.

Yang jelas, jika El Niño kuat benar-benar berkembang, berbagai sektor mulai dari pertanian, ketersediaan air, ketahanan pangan, hingga risiko kebakaran hutan perlu bersiap menghadapi potensi dampaknya. Pengalaman pahit 1997–1998 menjadi pengingat bahwa perubahan suhu di Samudra Pasifik dapat memicu efek berantai yang menjangkau hampir seluruh dunia.[red/det]

BERITA TERKAIT

Cuaca Panas Ekstrem Landa Sumsel, Suhu di PALI Sentuh 35°C — BMKG dan Dinkes Imbau Warga Waspada

02 November 2025 756

PALI [kabarpali.com] — Minggu (2/11/2025), Udara terasa menyengat di [...]

Nasib Petani PALI, Sehabis 'Nugal' dan Tanam Balam Tak Kunjung Hujan

30 Oktober 2024 1569

PALI [kabarpali.com] - Para petani atau pekebun di Kabupaten Penukal Abab [...]

close button