Menangguk Rupiah dari Langsatan

Oleh Redaksi KABARPALI | 16 Juni 2020
Langsatan di Sungai Penukal.


Penukal Utara [kabarpali.com] – Melimpahnya volume air Sungai Penukal di Kecamatan Penukal Utara Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di Desa Tempirai dan sekitarnya. Berkat Sungai Penukal, alat penangkap ikan tradisional mereka, Langsatan, panen besar.

Disambangi kabarpali.com, Senin siang (16/6/2020), di sepanjang aliran Sungai Penukal di Desa Tempirai, nampak berjejer konstruksi Langsatan yang terbuat dari material kayu dan bambu. Selain itu, juga terlihat alat penangkap ikan lainnya, seperti Rawai, dan para warga yang sedang menangkul maupun memancing.

Bersama dengan pemilik salah satu langsatan, Mei serta beberapa warga lainnya. Dengan mengendarai perahu getek, kami menyusuri Sungai Penukal. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Langsatannya, dari pesisir sungai, Padang Tempirai.

Sepanjang perjalanan, suasana eksotis hutan rindang yang didominasi pohon Rengas besar di pinggir sungai terasa menyejukkan. Sesekali terdengar nyanyian burung dan ocehan monyet dari atas dahan pohon.

Hampir semua warga Tempirai bersukacita berburu ekosistem air tawar di sana. Pekerjaan itu pun sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Melimpah ruahnya hasil sungai, telah memberikan penghidupan yang lebih dari kata layak bagi mereka.

“Modal untuk membuat satu langsatan bisa mencapai Rp50 juta. Dibutuhkan kayu, papan dan bambu yang tak sedikit,” cetus Mei, ketika kabarpali.com menanyakan besaran biaya membangun Langsatannya.

Meski begitu, modal besar yang harus dikeluarkan itu sebanding dengan hasil yang didapat. Menurut Mei, dalam semalam ia bisa mengumpulkan beragam ikan hingga berat 50 kilogram.

“Ikannya bervariasi. Ada Toman, Baung, Lais, Siapil, Udang bahkan Tapa dan lainnya. Jika dijual, harganya pun bervariasi, tergantung jenis ikannya. Kalau Lais harganya sekitar Rp25 ribu sekilo, Baung Rp40 ribu per kilo,” terangnya.

Pembangunan Langsatan dilakukan di saat musim kemarau, kala volume air sedikit. Bangunan yang panjangnya sekitar 100 meter, dari dasar di hulu menuju ke atas permukaan sungai di hilir itu, bisa bertahan hingga tiga tahun.

“Saat air sungai berisi seperti inilah waktunya kita panen. Hasilnya bisa mencapai Rp2 juta lebih per malam,” cetus pria yang bermalam di sana, bersama anak istrinya itu.

Sesampai di Langsatannya, kami disambut sapaan gembira anak-anak Mei, serta beberapa keponakannya. Suasana sekolah yang masih libur, dimanfaatkan bocah-bocah itu untuk bermain dan menikmati suasana sejuk di pondok yang berada di pinggir sungai.

Langsung saja, kami pun menuju ikan-ikan yang terdampar di langsatan itu. Menggunakan piring plastik, sekumpulan ikan lais berpindah ke dalam ember.

Menjamu kami, dua ekor ikan Toman dan satu ikan Kepras berukuran besar akhirnya pasrah saja tergeletak di atas panggangan. Beberapa lainnya di pindang istri Mei, untuk makan malam.

“Ikan yang didapat kami jual setiap pagi. Beberapa pengepul rutin datang ke desa kami untuk membawanya ke kota. Baik dari PALI ini maupun dari luar kabupaten. Kalau lagi beruntung dapat banyak ikan, hasilnya pun lumayan,” ujar Mei sumringah.

Langsatan adalah aset kebudayaan dan kearifan lokal khas Kabupaten PALI. Dulu, sebelum Sungai Sebagut yang berada di Kecamatan Penukal rusak. Langsatan juga kerap ditemui di sana.

Beragam jenis ekosistem air tawar yang melimpah, cukup menjamin ketersediaan sumber gizi hewani yang terjangkau bagi masyarakat daerah ini. Selain itu, potensi sisi ekonominya pun bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan bagi warga setempat.

Sungai Penukal, Langsatan, Rawai, Tangkul dan lainnya, kini menjadi beberapa ikon yang tersisa untuk dibanggakan warga Bumi Serepat Serasan. Jika kita tak melestarikannya, maka semua pun akan tinggal cerita pula.[red]

BERITA LAINNYA

101928 KaliTangis Tukang Tempe dari PALI: Saat Harapan Dicemari Isu Racun

DI SEBUAH  sudut pasar tradisional di Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

21 Mei 2025

79038 Kali9 Elemen Jurnalisme Plus Elemen ke-10 dari Bill Kovach

ADA sejumlah prinsip dalam jurnalisme, yang sepatutnya menjadi pegangan setiap [...]

25 Maret 2021

39377 KaliHore! Honorer Lulusan SMA Bisa Ikut Seleksi PPPK 2024

Kabarpali.com - Informasi menarik dan angin segar datang dari Kementerian [...]

09 Januari 2024

25900 KaliIni Dasar Hukum Kenapa Pemborong Harus Pasang Papan Proyek

PEMBANGUNAN infrastruktur fisik di era reformasi dan otonomi daerah dewasa ini [...]

30 Juli 2019

23539 KaliWarga PALI Heboh, ditemukan Bekas Jejak Kaki Berukuran Raksasa

Penukal [kabarpali.com] – Warga Desa Babat Kecamatan Penukal [...]

18 Agustus 2020

Penukal Utara [kabarpali.com] – Melimpahnya volume air Sungai Penukal di Kecamatan Penukal Utara Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di Desa Tempirai dan sekitarnya. Berkat Sungai Penukal, alat penangkap ikan tradisional mereka, Langsatan, panen besar.

Disambangi kabarpali.com, Senin siang (16/6/2020), di sepanjang aliran Sungai Penukal di Desa Tempirai, nampak berjejer konstruksi Langsatan yang terbuat dari material kayu dan bambu. Selain itu, juga terlihat alat penangkap ikan lainnya, seperti Rawai, dan para warga yang sedang menangkul maupun memancing.

Bersama dengan pemilik salah satu langsatan, Mei serta beberapa warga lainnya. Dengan mengendarai perahu getek, kami menyusuri Sungai Penukal. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai Langsatannya, dari pesisir sungai, Padang Tempirai.

Sepanjang perjalanan, suasana eksotis hutan rindang yang didominasi pohon Rengas besar di pinggir sungai terasa menyejukkan. Sesekali terdengar nyanyian burung dan ocehan monyet dari atas dahan pohon.

Hampir semua warga Tempirai bersukacita berburu ekosistem air tawar di sana. Pekerjaan itu pun sudah menjadi profesi yang menjanjikan. Melimpah ruahnya hasil sungai, telah memberikan penghidupan yang lebih dari kata layak bagi mereka.

“Modal untuk membuat satu langsatan bisa mencapai Rp50 juta. Dibutuhkan kayu, papan dan bambu yang tak sedikit,” cetus Mei, ketika kabarpali.com menanyakan besaran biaya membangun Langsatannya.

Meski begitu, modal besar yang harus dikeluarkan itu sebanding dengan hasil yang didapat. Menurut Mei, dalam semalam ia bisa mengumpulkan beragam ikan hingga berat 50 kilogram.

“Ikannya bervariasi. Ada Toman, Baung, Lais, Siapil, Udang bahkan Tapa dan lainnya. Jika dijual, harganya pun bervariasi, tergantung jenis ikannya. Kalau Lais harganya sekitar Rp25 ribu sekilo, Baung Rp40 ribu per kilo,” terangnya.

Pembangunan Langsatan dilakukan di saat musim kemarau, kala volume air sedikit. Bangunan yang panjangnya sekitar 100 meter, dari dasar di hulu menuju ke atas permukaan sungai di hilir itu, bisa bertahan hingga tiga tahun.

“Saat air sungai berisi seperti inilah waktunya kita panen. Hasilnya bisa mencapai Rp2 juta lebih per malam,” cetus pria yang bermalam di sana, bersama anak istrinya itu.

Sesampai di Langsatannya, kami disambut sapaan gembira anak-anak Mei, serta beberapa keponakannya. Suasana sekolah yang masih libur, dimanfaatkan bocah-bocah itu untuk bermain dan menikmati suasana sejuk di pondok yang berada di pinggir sungai.

Langsung saja, kami pun menuju ikan-ikan yang terdampar di langsatan itu. Menggunakan piring plastik, sekumpulan ikan lais berpindah ke dalam ember.

Menjamu kami, dua ekor ikan Toman dan satu ikan Kepras berukuran besar akhirnya pasrah saja tergeletak di atas panggangan. Beberapa lainnya di pindang istri Mei, untuk makan malam.

“Ikan yang didapat kami jual setiap pagi. Beberapa pengepul rutin datang ke desa kami untuk membawanya ke kota. Baik dari PALI ini maupun dari luar kabupaten. Kalau lagi beruntung dapat banyak ikan, hasilnya pun lumayan,” ujar Mei sumringah.

Langsatan adalah aset kebudayaan dan kearifan lokal khas Kabupaten PALI. Dulu, sebelum Sungai Sebagut yang berada di Kecamatan Penukal rusak. Langsatan juga kerap ditemui di sana.

Beragam jenis ekosistem air tawar yang melimpah, cukup menjamin ketersediaan sumber gizi hewani yang terjangkau bagi masyarakat daerah ini. Selain itu, potensi sisi ekonominya pun bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan bagi warga setempat.

Sungai Penukal, Langsatan, Rawai, Tangkul dan lainnya, kini menjadi beberapa ikon yang tersisa untuk dibanggakan warga Bumi Serepat Serasan. Jika kita tak melestarikannya, maka semua pun akan tinggal cerita pula.[red]

BERITA TERKAIT

Disbudpar PALI Bentuk Komunitas Ekonomi Kreatif, Siapkan Rencana Aksi Pengembangan Daerah

20 Juli 2026 223

PALI [kabarpali.com] – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) [...]

Ekonomi PALI Tumbuh 5,08 Persen pada Semester I 2026

06 Juli 2026 575

PALI [kabarpali.com] – Kinerja ekonomi Kabupaten Penukal Abab Lematang [...]

Daya Beli Masyarakat Menurun, Dinkop UKM PALI Siapkan Terobosan PALI Night Culinary

06 Juni 2026 768

PALI [kabarpali.com] – Di tengah melemahnya daya beli masyarakat akibat [...]

close button